SRAGEN - Di tengah kesibukan program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-128 Kodim 0725/Sragen, sebuah cerita yang menyentuh hati justru mencuri perhatian. Bukan tentang pencapaian fisik pembangunan, melainkan tentang dedikasi luar biasa seorang ayah dari pedesaan yang berhasil mengantarkan kelima buah hatinya meraih gelar sarjana.
Sosok ayah inspiratif itu bernama Suradi, seorang warga lokal yang berdomisili di lokasi pelaksanaan TMMD. Dalam sebuah obrolan santai yang penuh kehangatan, Suradi berbagi liku-liku perjalanan hidupnya dalam membesarkan anak-anak dengan memegang teguh prinsip asah, asih, dan asuh. Nilai-nilai dasar pendidikan keluarga ini terbukti tetap relevan dan menjadi pondasi kuat menghadapi berbagai tantangan zaman.

Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sederhana, Suradi tidak pernah menjadikan keterbatasan materi sebagai alasan untuk menyerah. Sebaliknya, ia justru menjadikan situasi tersebut sebagai cambuk motivasi untuk menanamkan nilai kerja keras, disiplin, dan pentingnya pendidikan kepada anak-anaknya sejak usia dini.
“Pendidikan itu investasi masa depan. Orang tua harus hadir, memberi contoh, dan terus mendorong anak-anak agar tidak menyerah dalam belajar, ” ujar Suradi, Rabu (6/5/2026).
Menurut Suradi, kunci kesuksesan dalam mendidik anak bukanlah semata-mata soal kecukupan materi, melainkan pada konsistensi orang tua dalam mendampingi dan membangun karakter buah hati mereka.
Kisah perjuangan Suradi ini meninggalkan kesan mendalam bagi para anggota Satuan Tugas (Satgas) TMMD. Salah seorang personel mengungkapkan bahwa pengalaman tersebut menjadi pengingat berharga bahwa pembangunan bangsa tidak hanya berbicara tentang infrastruktur fisik semata, tetapi juga tentang kualitas sumber daya manusia yang berawal dari lingkungan keluarga.
“Kami datang untuk membangun desa secara fisik, tetapi dari sosok seperti Pak Suradi, kami belajar bahwa fondasi terkuat bangsa justru dibangun dari keluarga, ” ungkap Pelda Budi Santoso, salah satu anggota Satgas.
Program TMMD, yang selama ini dikenal sebagai upaya percepatan pembangunan wilayah, ternyata juga membuka ruang interaksi sosial yang kaya akan nilai edukatif. Pertemuan antara aparat dan warga desa menjadi jembatan pertukaran pengalaman yang mampu memperkaya perspektif kedua belah pihak.
Perjalanan hidup Suradi menjadi bukti nyata bahwa ketulusan, kesabaran, dan komitmen orang tua yang tak pernah padam mampu melahirkan generasi unggul, bahkan ketika dihadapkan pada keterbatasan. Di balik kesederhanaan kehidupan desa, tersimpan kekuatan besar yang menjadi fondasi kokoh bagi masa depan bangsa.
Lebih dari sekadar sebuah cerita, perjalanan hidup Suradi kini menjelma menjadi inspirasi yang sangat nyata. Ia mengajarkan bahwa harapan selalu menemukan jalannya, selama ada tekad yang kuat dan kasih sayang yang tak pernah padam dalam diri setiap orang tua.
(Agung)
